Garis62 – Kebijakan Prabowo Subianto hari ini membawa harapan besar bagi bangsa. Ia hadir dengan semangat gerakan perubahan, berupaya menata negeri dan meletakkan pondasi pembangunan yang kokoh untuk masa depan Indonesia.
Namun di tengah langkah besar itu, posisi beliau ibarat berada di taman kaktus—indah untuk dipandang, tetapi penuh duri yang siap melukai jika salah melangkah. Setiap keputusan menuntut ketelitian, setiap kebijakan membutuhkan kejujuran dari orang-orang di sekelilingnya.
Di sisi lain, komitmen beliau dalam pemberantasan korupsi, penguatan ketahanan pangan, serta pembangunan ekonomi harus terus dijaga dan diperkuat. Perjuangan ini tidak bisa berdiri sendiri—ia membutuhkan dukungan dari seluruh elemen bangsa. Bukan hanya para pendamping di lingkar kekuasaan, tetapi juga rakyat yang jujur dan berani menyampaikan kebenaran apa adanya.
Dari pantauan kami sebagai kader Partai Gerakan Indonesia Raya, masih banyak pihak di sekitar beliau yang belum sepenuhnya jujur. Budaya “asal bapak senang” masih terasa, sehingga realita di tengah masyarakat tidak tersampaikan secara utuh. Padahal, kejujuran adalah fondasi utama dalam membangun negeri yang kuat.
Kita membutuhkan satu gerakan yang terus menerus—gerakan perubahan menuju Indonesia yang maju dan berjaya. Gerakan yang lahir dari keberanian, kejujuran, dan kepedulian terhadap nasib rakyat.
Kita yakin, bila kita bersama, kita bisa.
Dalam hal ini, kami berharap Prabowo Subianto berkenan “membuka telinga baru”—mendengar lebih luas, lebih dalam, dan lebih jujur dari berbagai sumber di luar istana. Karena hanya dengan informasi yang utuh dan nyata, arah kebijakan akan tetap berpihak pada kebenaran dan kebutuhan rakyat.
Harapan kita, gerakan perubahan ini benar-benar berdiri di atas kejujuran dan keberanian, agar pondasi pembangunan yang diletakkan hari ini tidak hanya kuat, tetapi juga adil dan membawa Indonesia menuju masa depan yang gemilang.
Penulis : Muhammad Rafik                                                      Kader Partai Gerindra Kab Batu Bara Sumatera Utara




